TOXICITY LUBANG HITAM TEKNOLOGI, TRADISI, DAN PERCINTAAN “ Somewhere between the sacred silence and sleep… Disorder, disorder, disorder” (system of a down)

Cerita dari Jogja, sebuah film yang mengangkat gaya hidup para pelajar kota Jogjakarta. Dibuat oleh sutradara yang sebelumnya telah melakukan survey mendalam tentang kehidupan para pelajar di Jogja. Adegan yang terlihat di layar banyak menampilkan variasi perilaku yang juga mengundang banyak tanggapan. Secara umum secara pribadi saya menyebutnya sebagai situasi Disorder. Kekacauan perilaku dan tindakan para pelajar dengan contoh seperti seks bebas, menghisap ganja, minum minuman keras sangat jelas terlihat. Hanya satu hal yang menurut saya dapat dijadikan contoh adalah perjuangan mempertahankan keberadaan tradisi perawan atau virgin selama hampir tigaperempat bagian film oleh karakter Savina.  Diantara lingkungannya yang kacau (disorder), karakter Savina mampu memposisikan diri pada sebuah tempat yang tenang, sebuah ruang kosong bagi dirinya sendiri untuk menjadi dirinya sendiri. Walaupun terlihat karakter perempuan ini merokok dan menghirup ganja, namun karakter ini masih menyediakan tempat aman untuk virginitas.

Terlepas dari pendapat film ini Cuma fiksi atau realita kehidupan, banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran dan hikmah dari film ini. Saya tidak mempersoalkan hal ini karena yang lebih penting  adalah bagaimana menyikapi  persoalan-persoalan moral yang terkandung di dalamnya.

Saya akan memulainya dengan penekanan film mengangkat kehidupan para pelajar yang notabene pada umumnya tergolong berusia remaja. Kenapa para remaja? Pemberian identitas atas nama Remaja, bukan semata-mata karena usia, yang lebih penting disini adalah pada perilaku, sikap, dan pandangan hidup. Status remaja ditandai dengan perubahan cara pandang dari anak-anak menjadi semi dewasa. Hal ini membuat para remaja membutuhkan banyak referensi sebagai acuan untuk menjadi dewasa sepenuhnya. Secara alamiah hubungan sebab akibat ini memunculkan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Bagian lain yang tidak dapat dipisahkan adalah perasaan yang menginginkan absolute freedom. Kehidupan tanpa ada yang mengawasi, menilai, dan melarang. Dalam pandangan saya, dua hal diatas (rasa ingin tahu dan absolute freedom) merupakan cikal bakal dihasilkannya anak tiri dari potensi-potensi remaja yakni perilaku disorder. Hal ini tidak dapat disalahkan karena remaja adalah manusia yang tidak selalu mengambil tindakan benar dalam hidupnya. Disinilah peran etika menjadi bagian penting sebagai penilaian untuk mengambil sikap moral yang tepat. Perilaku disorder yang  paling menonjol dari film adalah free sex.

Realita free sex sudah menjadi bagian gaya hidup remaja masa kini. Banyak bukti disekitar kita yang menujukkan adanya perilaku ini. Secara tidak langsung perilaku seks bebas juga memberi  pengaruh tersendiri pada tingkat pergaulan seorang remaja.

Perilaku disorder lainnya adalah penyalahgunaan teknologi. Teknologi internet saat ini dapat diakses oleh siapa saja baik untuk kepentingan positif maupun negatif. Dengan adanya variasi kepentingan tersebut dibutuhkan batasan-batasan moral tertentu untuk menjamin terciptanya pemanfaatan teknologi yang beretika. Batasan moral ini mengacu pada nilai guna teknologi sebagai alat untuk membantu manusia menuju kehidupan yang lebih baik. Jika acuan ini terpenuhi, maka dengan sendirinya pemanfaatan teknologi yang beretika akan terasa manfaatnya, khususnya bagi para remaja.

Perkembangan zaman saat ini mempengaruhi beberapa unsur-unsur “old school” opinion, seperti tradisi dan cinta. Para remaja tidak dapat menutup mata pada tiga hal ini ; teknologi, tradisi, dan cinta. Kesemuanya ada disekitar kita dan sangat mempengaruhi setiap keputusan yang akan kita ambil. Pergeseran kea rah negatif ketiga hal diatas menciptakan lubang hitam yang menarik kita semua dalam kebingungan, kepasrahan terbawa arus tanpa pertimbangan. Situasi seperti ini membuat kita seperti hidup dalam kota mati, TOXICITY. Di dalam toxicity, norma-norma menjadi hilang, moralitas dianggap kebohongan dan etika adalah tidak ada. Hal ini tentunya menyebabkan orang berperilaku disorder. Seperti yang telah disebutkan diatas, salah satu contoh perilaku disorder adalah free sex.

FREE SEX atau SEKS BEBAS

Apa itu seks bebas? Seks bebas secara umum adalah pola perilaku seks bebas dan tanpa batasan, baik dalam bertingkah laku seksnya maupun dengan siapa dia berseks ria. Lebih spesifik dalam kaitannya dengan pembahasan film “cerita dari Jogja”, dapat saya artikan sebagai: melakukan hubungan seks secara bebas untuk para pasangan yang belum diakui menikah secara resmi, dalam hal ini para pelajar. Seks bebas sebagai salah satu hasil perilaku menyimpang manusia, memiliki hubungan erat dengan aspek-aspek yang mengitari dan mempengaruhi hidup manusia. Tiga point yang menurut saya paling rawan dan berpengaruh besar adalah teknologi, tradisi, dan cinta. Masing-masing memiliki pengaruh khusus dan setiap pengaruh dari ketiga aspek ini  perlu ditinjau dan ditelaah secara baik dan benar untuk dijadikan sebagai batasan moral.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, teknologi saat ini memiliki nilai multifungsi untuk variasi penggunanya. Keterlibatan teknologi memberikan pemenuhan rasa ingin tahu tingkat pertama mengenai apa itu seks (bukankah teknologi dapat memberikan informasi secara luas mengenai apa saja. Pemanfaatan teknologi yang beretika dipertanyakan). Setelah melewati tingkat pertama ini, muncul hasrat berikutnya yang membawa para remaja pada tingkat selanjutnya. Pada tingkat kedua, rasa ingin tahu tentang bagaimana mengalami seks secara langsung dan pribadi secara alamiah terbentuk. Hal ini karena kurangnya bekal yang dimiliki oleh para remaja mengenai seks dan akibat-akibatnya. Kedua tahapan ini tentunya tidak lepas dari “pengawasan” aspek tradisi. Secara tradisi, seks merupakan barang tabu untuk dibicarakan. Karena sifatnya yang tabu, memberikan pengaruh besar pada kedua tingkat diatas dalam hal pemenuhan rasa ingin tahu. Semakin sangat rahasia dan tabu sesuatu hal, semakin besar rasa penasaran yang timbul. Hal ini sudah dibuktikan sejak zaman Adam Hawa. Nilai moral yang terkandung di dalam batasan yang diberikan tradisi ini banyak dibahas oleh para pakar psikologi saat ini. Sebagian besar menganggap seks seharusnya bukan hal tabu. Saya mendukung pernyataan ini dan menyarankan perubahan radikal moralitas (arahan normatif bagaimana manusia harus bersikap). Nilai lama yang menganggap seks sebagai hal tabu harus dihapus dan diganti dengan nilai moral baru yang berisi pernyataan seks bukan hal tabu lagi untuk dibicarakan dewasa ini. Mengingat pentingnya pembekalan para remaja dan anak-anak akan seks edukasi.

Di sisi lain, tradisi memberikan batasan moral pada tingkat kedua pemenuhan rasa ingin tahu. Nilai yang menyatakan bahwa seks hanya diperbolehkan bagi pasangan yang sudah menikah secara resmi. Dalam tradisi kita menikah merupakan hal mulia sebab bertautan dengan ajaran agama dimana kita mengemban tugas dari Sang Pencipta untuk beranak-cucu. Karena sifatnya yang mulia, secara langsung menjadi seleksi alam bagi para remaja yang ingin merasakan sendiri bagaimana berhubungan seks. Seleksi alam lain yang dimiliki tradisi adalah bagaiman keperawanan masih menjadi tolok ukur baik atau buruknya seorang perempuan yang belum menikah.

Namun sebagai mahluk hidup, tentu beberapa akan lolos dari seleksi alam ini. Bagi yang lolos, terdapat banyak pilihan untuk melakukan hubungan seks. Bisa dengan “jajan” atau melakukannya dengan “wanita baik-baik”. Saya lebih tertarik dengan pilihan kedua yang merupakan pokok permasalahan yang terjadi pada film yang dibahas. Pernyataan “saya hanya melakukannya dengan orang yang tepat” (karakter Savina) mengandung dua makna proses. Yang pertama jika hubungan seks tersebut berlangsung setelah menikah dan kedua berlangsung sebelum menikah. Makna proses kedua divonis salah oleh nilai moral yang berlaku dalam masyarakat kita apapun alasannya, bahkan jika karna cinta. Dapat kita lihat disini, jika hubungan seks diluar nikah terjadi walupun karena cinta, membuat cinta menjadi kambing hitam atas kesalahan persepsi hubungan suka sama suka. Bagaimanapun cinta itu nyata dalam kehidupan kita namun tidak harus menjadi sarana pemenuhan rasa ingin tahu dan absolute freedom. Penilaian moral ini saya ambil berdasarkan Cinta Universal yang diberikan Tuhan kepada kita. Salah satu contohnya, bukankah Tuhan memberikan seks sebagai suatu karya agung-Nya bagi kita untuk beranak-cucu. Jika seks bebas menghasilkan bayi di dalam kandungan dan diabaikan, dimana harus diletakan cinta universal. Jika tetap bertanggungjawab, bisa dibayangkan beban mental yang harus ditanggung sebagai aib.

RELEVANSI

Seks bebas menciptakan suatu lingkaran, dimana orang akan sulit keluar jika sudah terjebak di dalamnya. Jika ingin keluar sekali lagi butuh perubahan radikal dalam gaya hidup dan nilai moral yang lebih menuntut. Disini saya tidak ingin mengutuk perilaku seks bebas dan perilaku disorder lainnya tapi lebih kepada bagaimana menyikapinya. Perilaku disorder termasuk seks bebas memang terlarang dan dikecam dimana-mana sebagai suatu kelemahan gaya hidup modern. Saya menekankan pada bagaimana kelemahan bisa menjadi kekuatan.

“hadiah dari laut bukan hanya hempasan ombak, tapi peluang untuk merasa kuat. Masalahnya bukan menjadi kuat tapi merasa kuat. Menguji dirimu paling tidak sekali dalam hidupmu, tanpa bantuan lain karena semuanya bisu. Hanya bisa berharap pada kepala dan tanganmu.”(into the wild).

Menjadi bagian dari remaja masa kini memang berat dan penuh tantangan. Sangat  banyak sekali nilai yang masuk ke dalam diri kita setiap harinya, baik itu yang baik maupun yang buruk. Menghadapi pengaruh tersebut, disarankan agar kita membangun sebuah ruang kosong dalam diri kita untuk dijadikan tempat dimana kita berkuasa sempurna dan nilai-nilai moral masih memiliki peran penting. Suatu tempat diantara sucinya kebisuan akan dunia luar. Disanalah kita menjaga apa yang paling ingin kita pertahankan, seperti karakter Savina pada tigaperempat film. Untuk menguji diri kita dalam mempertahankannya, tidak perlu pergi jauh entah kemana. Lingkungan sekitar dapat menjadi api yang akan semakin memurnikan emas. Jadi mengapa takut dan pesimis, yang terpenting bukan menjadi kuat tapi merasa kuat. Tidak perlu mengutuk orang yang sudah melakukan seks bebas. Mereka adalah jembatan bagi kita untuk merasa kuat. Kelak rasa kuat itu akan terlihat oleh orang lain dan pengaruhnya dapat merubah seseorang, termasuk mereka yang sudah melakukan seks bebas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: