Menjadi Pemulung? Siapa Takut!

Mengapa pemulung?

Banyak diantara kita yang mungkin belum tau kalau kita, bangsa yang bernama Indonesia, menghasilkan sampah 167 ton per harinya. Kemanakah akhirnya sampah-sampah tersebut setelah kita buang? Jawabannya ada 2: entah kemana perginya dan diolah kembali. Ironisnya hanya 5% dari 167 ton tersebut yang diolah. 95% lainnya menumpuk di dalam tanah dan dipermukaan bumi ibu pertiwi. Bayangkan…95%. Jumlah 5% tersebut merupakan hasil yang diperoleh semua pemulung yang berada di Indonesia, baik yang resmi maupun yang liar. Hal ini menunjukkan jumlah pemulung yang berada di Indonesia masih sedikit (indikasi negara sejahtera kah?). Padahal kontribusi mereka sangat besar terhadap pengolahan sampah di Indonesia. Tanpa pemulung, Bantar Gebang tidak akan bisa menghasilkan listrik dari sampah organik berupa gas metana sebesar 120KVa. Sampah-sampah plastik dan kaleng daur ulang juga banyak yang  masuk pabrik daur ulang dengan harga sekitar Rp. 400,00 per Kg karena jasa mereka. Mungkin karena harga beli yang rendah ini membuat mereka terkadang sedikit diluar batas seperti “mengambil”  barang-barang yang bukan sampah. Masih lebih baik kan dibandingkan 600an Miliyar yang hilang dalam kasus Bank Century. Dari pabrikan daur ulang dijual lagi kepada produsen makanan dan minuman kemasan dengan harga sekitar Rp. 2.000,00 – Rp. 10.000,00 per Kg.

Sekarang mari kita lihat pandangan masyarakat kita tentang eksistensi pemulung.

Pemulung dipandang sebagai strata kasta paling bawah di dalam masyarakat kita. Mungkin karena pekerjaan mereka yang bersinggungan langsung dengan sampah, yang berarti kotor, dekil, dan bau. Jauh dari pemandangan sebagai manusia normal. Sudah menjadi rahasia umum jika mereka ditolah dimana-mana. Pernah suatu kali, saat berkunjung ke rumah keluarga, adik sepupuku yang baru berumur 5 tahun menangis sambil berlari ke pelukan ibunya saat melihat seorang pemulung lewat di depan rumah. Pemulung tersebut langsung diusir oleh Omku. Memang pantas juga karena waktu itu yang kami lihat benar-benar horor..hehehe.

Jika Anda melihat gambar di atas, lebih sadis mana?

Nah, sekarang tentang menjadi pemulung.

Hahaha…tentu saja Semua orang tidak akan mau menjadi pemulung. Pemulung kok dijadikan cita-cita…

Tapi jika dilihat dari sisi lain, bagaimana nasib sampah-sampah yang tiap hari kita hasilkan jika mereka tidak ada. Pertanyaannya, maukan Anda menjadi pemulung tanpa harus berprofesi sebagai pemulung? Caranya?

Buanglah sampah pada tempatnya dan jika Anda menemukan sampah berceceran di sekitar Anda, pungutlah dan masukan ke tempat sampah. hehehe…

Jangan anggap enteng, ini susah!! Tidak percaya? Buktikan sendiri.

Iklan

7 Tanggapan so far »

  1. 1

    dyasti said,

    kalo ga pngen ad pmulung ya harus sadar buang sampah pada tmpat’na..

  2. 2

    sip-sip benar… siap tuk buang sampah pada tempatnya??

  3. 3

    risa said,

    betul betul betul !!
    Mulai dr diri sndri pentg..
    HARUS berani jd pemulung tk sampah sndri..

  4. 5

    fauzikun said,

    sepertinya sayah Kelimax nih 🙂

    emang penduduk indonesia ini harus sadar diri, terutama yang ada di kota.
    mereka yang makan tapi membuang ke kota orang 😦
    harus cepat cepat di benahi
    __________________
    link agan udah di add di blog sayah, mohon backlink nya gan 🙂 makasih

  5. 7

    Bung Alfaro… Salam perkenalan….
    Sebagaimana diketahui bahwa pasca disyahkannya UU No 18 Tahun 2008 tentang Persampahan… maka selaku warga negara yang memiki kepatuhan hukum serta berwawasan lingkungan, pastilah terpanggil untuk segera mengolah sampah (rumah tangga) yang “diproduksinya” secara independen, baik secara individu maupun komunitas,
    Adapun sampah tersebut berupa sampah organis yang dieksplorasi sebagai kompos serta sampah non organis yang dijadikan komoditi bernilai ekonomis.
    Oleh karenanya, dengan segala kerendahan hati kami Pengurus Organisasi Pemulung Indonesia menghimbau dan mengajak kepada segenap pencinta lingkungan untuk menjadi para pengelola sampah demi kelangsungan ekosistem, serta selaras pula dengan issue global ; go green.


Comment RSS · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: