Posts tagged indonesia

Konferensi Perubahan Iklim Internasional; Bagaimana Dengan Indonesia

Dunia berambisi menargetkan akan menahan kenaikan suhu global tidak melebihi 2 derajat Celcius. Hanya ini tidak bisa hanya bergantung dari peran negara Annex I (negara-negara industri) saja. Perlu kontribusi negara-negara berkembang juga sebagai satu kesatuan. Bagaimana dengan peran Indonesia, negara kita.

Hasil yang dibawa pulang untuk Indonesia dari Konverensi Internasional ini adalah diterimanya metodologi skema REDD (pengurangan emisi dari Deforestasi dan Degradasi lahan). Artinya dunia internasional mempercayai Indonesia dalam menanggulangi masalah pembalakan hutan di negara kita ini.

Akhir September lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan bahwa Indonesia akan mengurangi emisi 26% dari kondisi tanpa usaha pengurangan emisi pada tahun 2020. Sedangkan Jepang yang kita kenal sebagai negara berteknologi maju hanya menargetkan 25% dibawah level 1990 pada tahun 2020.

Untuk mewujudkan cita-cita Presiden di atas beberapa hal berikut ini sangat diperlukan.

1. Teknologi tinggi sebagai upaya mitigasi. Bagi negara berkembang lebih banyak didorong ke arah langkah adaptasi, yaitu mengatasi dampak langsungnya.

2. Perlu “kesepakatan nasional” yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

3. Menata birokrasi yang sering tumpang tindih atau saling berbenturan kepentingan.

4. Implementasi hukum dan perundang-undangan diperkuat lagi.

5. Berani beraksi di lapangan karena sudah dapat dipastikan akan ada banyak konflik yang menanti.

Bagaimana realita yang kita hadapi sekarang

1. Persoalan di sektor kehutanan justru banyak muncul dari praktik korporasi yang seenaknya melanggar ketentuan. Banyak kasus pembalakan liar yang setelah ditelusuri bermuara pada korporasi-korporasi raksasa yang notabene memiliki uang dan tentunya “berkuasa”.

2. Saat Presiden mengumumkan pengurangan emisi 26% di atas, Departemen Kehutanan mengeluarkan 30 izin yang berhak menguras kayu di daerah Riau.

3. Terdapat ratusan konflik antara masyarakat lokal dengan pihak korporasi penguasa hutan, terutama di Kalimantan dan Papua.

4. Tumpang tindi dan amat beragamnya data di berbagai sektor. Ketidakpastian dan ketidakakuratan data mengakibatkan kurang akuratnya penyelesaian masalah.

Sumber: kompas 23 Desember 2009.

Jika pembaca yang terhormat ingin memberikan komentar, cobalah mengisi komentar Anda dengan menjawab pertanyaan “Apa yang dapat Anda Lakukan Untuk Mendukung Target Pengurangan Emisi Indonesia?”

Comments (148) »

Menjadi Pemulung? Siapa Takut!

Mengapa pemulung?

Banyak diantara kita yang mungkin belum tau kalau kita, bangsa yang bernama Indonesia, menghasilkan sampah 167 ton per harinya. Kemanakah akhirnya sampah-sampah tersebut setelah kita buang? Jawabannya ada 2: entah kemana perginya dan diolah kembali. Ironisnya hanya 5% dari 167 ton tersebut yang diolah. 95% lainnya menumpuk di dalam tanah dan dipermukaan bumi ibu pertiwi. Bayangkan…95%. Jumlah 5% tersebut merupakan hasil yang diperoleh semua pemulung yang berada di Indonesia, baik yang resmi maupun yang liar. Hal ini menunjukkan jumlah pemulung yang berada di Indonesia masih sedikit (indikasi negara sejahtera kah?). Padahal kontribusi mereka sangat besar terhadap pengolahan sampah di Indonesia. Tanpa pemulung, Bantar Gebang tidak akan bisa menghasilkan listrik dari sampah organik berupa gas metana sebesar 120KVa. Sampah-sampah plastik dan kaleng daur ulang juga banyak yang¬† masuk pabrik daur ulang dengan harga sekitar Rp. 400,00 per Kg karena jasa mereka. Mungkin karena harga beli yang rendah ini membuat mereka terkadang sedikit diluar batas seperti “mengambil”¬† barang-barang yang bukan sampah. Masih lebih baik kan dibandingkan 600an Miliyar yang hilang dalam kasus Bank Century. Dari pabrikan daur ulang dijual lagi kepada produsen makanan dan minuman kemasan dengan harga sekitar Rp. 2.000,00 – Rp. 10.000,00 per Kg.

Sekarang mari kita lihat pandangan masyarakat kita tentang eksistensi pemulung.

Pemulung dipandang sebagai strata kasta paling bawah di dalam masyarakat kita. Mungkin karena pekerjaan mereka yang bersinggungan langsung dengan sampah, yang berarti kotor, dekil, dan bau. Jauh dari pemandangan sebagai manusia normal. Sudah menjadi rahasia umum jika mereka ditolah dimana-mana. Pernah suatu kali, saat berkunjung ke rumah keluarga, adik sepupuku yang baru berumur 5 tahun menangis sambil berlari ke pelukan ibunya saat melihat seorang pemulung lewat di depan rumah. Pemulung tersebut langsung diusir oleh Omku. Memang pantas juga karena waktu itu yang kami lihat benar-benar horor..hehehe.

Jika Anda melihat gambar di atas, lebih sadis mana?

Nah, sekarang tentang menjadi pemulung.

Hahaha…tentu saja Semua orang tidak akan mau menjadi pemulung. Pemulung kok dijadikan cita-cita…

Tapi jika dilihat dari sisi lain, bagaimana nasib sampah-sampah yang tiap hari kita hasilkan jika mereka tidak ada. Pertanyaannya, maukan Anda menjadi pemulung tanpa harus berprofesi sebagai pemulung? Caranya?

Buanglah sampah pada tempatnya dan jika Anda menemukan sampah berceceran di sekitar Anda, pungutlah dan masukan ke tempat sampah. hehehe…

Jangan anggap enteng, ini susah!! Tidak percaya? Buktikan sendiri.

Comments (7) »