Posts tagged sampah

Menjadi Pemulung

Lima hari terakhir ini saya tidak meng-update tulisan di blog saya karena kegiatan ANSOS (analisa sosial) dari kampus. Kegiatan ini mewajibkan kami ber-live in di rumah-rumah penduduk yang berada di Salatiga, Jawa Tengah. Kami juga diharuskan bekerja pada keluarga yang kami tempati sesuai dengan jenis pekerjaan yang merupakan mata pencaharian keluarga tersebut.

Hal menarik saya temui pada seorang teman saya yang tinggal pada keluarga pemulung. Mau tidak mau teman saya ini harus menjadi pemulung juga. Berikut refleksi saya sesuai pengamalaman cerita teman saya ini.

Menjadi pemulung bukan merupakan cita-cita semua orang. Bagaimana mungkin bercita-cita menjadi orang yang setiap hari berinteraksi dengan sampah, bau, dan kotor. Karena alasan ini juga pandangan masyarakat terhadap pemulung menjadi sedikit “horor”. Pernah kan Anda membaca tulisan yang berbunyi “ Pemulung dilarang masuk. Nekat masuk, BACOK!”. Nah inilah contoh bagaimana masyarakat kita menanggapi kehadiran pemulung. Pengalaman teman saya, saat dia bekerja sebagai pemulung, anak-anak sekolah di salah satu SMA di Salatiga mengejeknya dan diberi tatapan mata jijik dari setiap orang yang menjumpainya.

Tanpa kita sadari sebenarnya pemulung memiliki kontribusi yang sangat besar pada kebersihan kota, dan secara umum pengurangan penumpukan sampah di muka bumi. Pendauran ulang sampah-sampah daur ulang kebanyakan atau bahkan hampir seluruhnya dihasilkan dari hasil kerja pemulung. Mendaur ulang sampah merupakan hal terbaik yang sampai saat ini dipakai untuk mengurangi penumpukan sampah di bumi.

Bagaimana dengan kita semua?

Mampukah menjadi pemulung untuk sampah-sampah di sekitar kita? Seorang memungut sampah satu saja setiap harinya sudah menjadikan kita masyarakat yang sadar akan lingkungan dan alam.

Comments (149) »

Menjadi Pemulung? Siapa Takut!

Mengapa pemulung?

Banyak diantara kita yang mungkin belum tau kalau kita, bangsa yang bernama Indonesia, menghasilkan sampah 167 ton per harinya. Kemanakah akhirnya sampah-sampah tersebut setelah kita buang? Jawabannya ada 2: entah kemana perginya dan diolah kembali. Ironisnya hanya 5% dari 167 ton tersebut yang diolah. 95% lainnya menumpuk di dalam tanah dan dipermukaan bumi ibu pertiwi. Bayangkan…95%. Jumlah 5% tersebut merupakan hasil yang diperoleh semua pemulung yang berada di Indonesia, baik yang resmi maupun yang liar. Hal ini menunjukkan jumlah pemulung yang berada di Indonesia masih sedikit (indikasi negara sejahtera kah?). Padahal kontribusi mereka sangat besar terhadap pengolahan sampah di Indonesia. Tanpa pemulung, Bantar Gebang tidak akan bisa menghasilkan listrik dari sampah organik berupa gas metana sebesar 120KVa. Sampah-sampah plastik dan kaleng daur ulang juga banyak yang  masuk pabrik daur ulang dengan harga sekitar Rp. 400,00 per Kg karena jasa mereka. Mungkin karena harga beli yang rendah ini membuat mereka terkadang sedikit diluar batas seperti “mengambil”  barang-barang yang bukan sampah. Masih lebih baik kan dibandingkan 600an Miliyar yang hilang dalam kasus Bank Century. Dari pabrikan daur ulang dijual lagi kepada produsen makanan dan minuman kemasan dengan harga sekitar Rp. 2.000,00 – Rp. 10.000,00 per Kg.

Sekarang mari kita lihat pandangan masyarakat kita tentang eksistensi pemulung.

Pemulung dipandang sebagai strata kasta paling bawah di dalam masyarakat kita. Mungkin karena pekerjaan mereka yang bersinggungan langsung dengan sampah, yang berarti kotor, dekil, dan bau. Jauh dari pemandangan sebagai manusia normal. Sudah menjadi rahasia umum jika mereka ditolah dimana-mana. Pernah suatu kali, saat berkunjung ke rumah keluarga, adik sepupuku yang baru berumur 5 tahun menangis sambil berlari ke pelukan ibunya saat melihat seorang pemulung lewat di depan rumah. Pemulung tersebut langsung diusir oleh Omku. Memang pantas juga karena waktu itu yang kami lihat benar-benar horor..hehehe.

Jika Anda melihat gambar di atas, lebih sadis mana?

Nah, sekarang tentang menjadi pemulung.

Hahaha…tentu saja Semua orang tidak akan mau menjadi pemulung. Pemulung kok dijadikan cita-cita…

Tapi jika dilihat dari sisi lain, bagaimana nasib sampah-sampah yang tiap hari kita hasilkan jika mereka tidak ada. Pertanyaannya, maukan Anda menjadi pemulung tanpa harus berprofesi sebagai pemulung? Caranya?

Buanglah sampah pada tempatnya dan jika Anda menemukan sampah berceceran di sekitar Anda, pungutlah dan masukan ke tempat sampah. hehehe…

Jangan anggap enteng, ini susah!! Tidak percaya? Buktikan sendiri.

Comments (7) »